ada lubang disisi rumah kami
bukan untuk irigasi bukan tempat traportasi
melainkan untuk mengingatkan bahwa seharusnya tidak boleh ada yang berani
Tidak ada bohong karena semua akan bersaksi
meski engkau hanya menipu mengenai sebutir nasi.
ada lubang disisi rumah kami
bukan untuk reboisasi bukan tempat isolasi
melainkan untuk anda tidur sembari membawa semua yang seharusnya kau lunasi
karena semua janji berujung kepada sebuah bakti
karena semua bakti adalah sesuatu yang patut diberi
ada lubang disisi rumah kami
bukan untuk hibernasi apalagi tempat rekreasi
melainkan untuk mengerti bahwa nafas adalah permainan yang harus dibatasi
jika kau keluar kendali maka kau akan terpersok ke dalam sepi
sembari terbebani satu penumpang lebih bernama gravitasi
yang pasti...pasti dan pasti akan menghantam mu kembali suatu hari.
ada lubang disisi rumah kami
bukan untuk malam ini bukan untuk esok hari.
melainkan kami akan terus berusaha untuk tidak berhenti
namun kami tahu akan merebah disini.
dan kami tahu itu pasti.
itu pasti. itu pasti.
07 June 2014
15 December 2013
Menjadi Abadi
Seorang kawan pernah berkata padaku:
Carilah sesuatu yang kau cinta
dan biarkan engkau dibunuh olehnya.
Bukankah itu yang dilakukan oleh setiap kesatria?
Untuk mati di tampat yang mampu ia eja?
Untuk mati di tempat yang ia kerap sapa?
Untuk mati di tempat yang tahu bahwa ia ada?
Harapan pun terkabul meski hadir jauh dari larut.
Langit terpojok lesu hari ini
Seorang kesatria telah gugur di garis idaman
Banyak yang iba
Banyak yang terisak.
Tapi kami tahu ia ada ditempat yang tepat.
Dan yang ia emban bukanlah percuma.
Karena dia melangkah maju bukan hanya untuk esok.
Karena dia melangkah maju bukan hanya untuk sebuah harta.
Karena dia melangkah maju untuk hari ini.
Untuk apa yang disebut sebagai keabadian.
Kebadian telah menyentuh dirinya.
Meski raga kini harus terhantam kelam
Dibaluti dengan isak dan ikhlas
Namun abadi. Ia abadi.
Aku pun iri dan cinta kepadanya.
Carilah sesuatu yang kau cinta
dan biarkan engkau dibunuh olehnya.
Bukankah itu yang dilakukan oleh setiap kesatria?
Untuk mati di tampat yang mampu ia eja?
Untuk mati di tempat yang ia kerap sapa?
Untuk mati di tempat yang tahu bahwa ia ada?
Harapan pun terkabul meski hadir jauh dari larut.
Langit terpojok lesu hari ini
Seorang kesatria telah gugur di garis idaman
Banyak yang iba
Banyak yang terisak.
Tapi kami tahu ia ada ditempat yang tepat.
Dan yang ia emban bukanlah percuma.
Karena dia melangkah maju bukan hanya untuk esok.
Karena dia melangkah maju bukan hanya untuk sebuah harta.
Karena dia melangkah maju untuk hari ini.
Untuk apa yang disebut sebagai keabadian.
Kebadian telah menyentuh dirinya.
Meski raga kini harus terhantam kelam
Dibaluti dengan isak dan ikhlas
Namun abadi. Ia abadi.
Aku pun iri dan cinta kepadanya.
30 September 2013
Sang Idealis
Dia akan kembali dibangkitkan
Kawan lama yang di kubur di dalam sana
Yang di tikam karena perselisihan yang ia buat
Dan menjadikan semuanya dipersalahkan
Dulu ia dikubur karena dikira semuanya akan membaik tanpanya
Cinta akan lebih mudah didapat tanpa dirinya
Hormat akan terangkat jika kau melepasnya
Namu ternyata hanya takut yang tertinggal.
Ia kini dibutuhkan.
Dan biarkan aku terasing karena ini.
Membangunkan yang terkubur adalah kutukan bagiku
Namun kutukan itu dibutuhkan
Kutukan itu adalah hidup.
Dan kini dibangkitkan dirinya.
Melirik berengsek dengan pandangan sendiri akan dunia
Melirik berengsek tanpa peduli hasrat lain milik orang.
Selama datang kembali.
Kawan lama yang di kubur di dalam sana
Yang di tikam karena perselisihan yang ia buat
Dan menjadikan semuanya dipersalahkan
Dulu ia dikubur karena dikira semuanya akan membaik tanpanya
Cinta akan lebih mudah didapat tanpa dirinya
Hormat akan terangkat jika kau melepasnya
Namu ternyata hanya takut yang tertinggal.
Ia kini dibutuhkan.
Dan biarkan aku terasing karena ini.
Membangunkan yang terkubur adalah kutukan bagiku
Namun kutukan itu dibutuhkan
Kutukan itu adalah hidup.
Dan kini dibangkitkan dirinya.
Melirik berengsek dengan pandangan sendiri akan dunia
Melirik berengsek tanpa peduli hasrat lain milik orang.
Selama datang kembali.
Cemburu
Dirinya merekuk sayu.
Dan mengiba kepada milik orang
Yang ia hanya boleh damba
Cemburu menjadikannya hamba
Mengeruk iri kepada keluarga kawan
dan meraung mimpi kepada yang dimilikinya.
Bermimpi dan bermimpi
seakan ingin menyentuh yang bukan ditangannya
dan sampai mati ia melakukannya
hingga lupa akan apa yang sudah ia genggam
apa yang menghangatkannya selama ini
apa yang sudah menjadikannya satu.
Mungkin Ia cemburu
Mungkin Ia hanya sendu
Karena sepi membuatnya jemu.
Kita tak pernah tahu.
Dan mengiba kepada milik orang
Yang ia hanya boleh damba
Cemburu menjadikannya hamba
Mengeruk iri kepada keluarga kawan
dan meraung mimpi kepada yang dimilikinya.
Bermimpi dan bermimpi
seakan ingin menyentuh yang bukan ditangannya
dan sampai mati ia melakukannya
hingga lupa akan apa yang sudah ia genggam
apa yang menghangatkannya selama ini
apa yang sudah menjadikannya satu.
Mungkin Ia cemburu
Mungkin Ia hanya sendu
Karena sepi membuatnya jemu.
Kita tak pernah tahu.
18 September 2013
Kutukan Kebebasan
Kebebasan apa yang mengutukmu?
Bukankah itu yang selalu kau mau?
Namun ruang bebas adalah hampa ternyata.
Kosong dan terlalu luas.
Hingga kau hanya mampu diam terpaku
Tersengat akan kesunyiannya.
Kebebasan apa yang mengutukmu?
Bukan kah itu yang selalu kau kejar?
Namun berlari tanpa pagar bukanlah mudah
Kencang namun tak berarah
Hingga kau hanya akan tersesat dan termangu
Meraung mencari arah yang benar.
Kebebasan memanglah hampa
Kebebasan memanglah tak berpagar.
Namun bukan kah itu yang selalu kau idam?
Ruang ini kosong karena memintamu mengisinya.
Pagar ini belum berdiri karena kau belum memberikan arah.
Dan duduk kali ini tak akan membawamu beranjak.
Lalu, kebebasan apa yang mengutukmu?
Bukankah itu yang selalu kau mau?
Namun ruang bebas adalah hampa ternyata.
Kosong dan terlalu luas.
Hingga kau hanya mampu diam terpaku
Tersengat akan kesunyiannya.
Kebebasan apa yang mengutukmu?
Bukan kah itu yang selalu kau kejar?
Namun berlari tanpa pagar bukanlah mudah
Kencang namun tak berarah
Hingga kau hanya akan tersesat dan termangu
Meraung mencari arah yang benar.
Kebebasan memanglah hampa
Kebebasan memanglah tak berpagar.
Namun bukan kah itu yang selalu kau idam?
Ruang ini kosong karena memintamu mengisinya.
Pagar ini belum berdiri karena kau belum memberikan arah.
Dan duduk kali ini tak akan membawamu beranjak.
Lalu, kebebasan apa yang mengutukmu?
Rindu
Aku terbangun, enggan terlelap
Terkenang akan semua yang aku puja
Dari yang mengerat hingga yang menggerutu.
Menyisakan rindu yang membuat mu biru
Sentimentil pun menguat dan semua terasa
Perpisahan demi perpisaan kerap menggertak namun tak membuat jera
Hanya menumpuk dan menabung beban di pucuk malam
Kenang dan mengenang.
Ini yang kuhabiskan saat ini
Meski aku tahu aku semestinya maju
Namun biarkan malam ini kuhabiskan untuk memuja rindu.
Terkenang akan semua yang aku puja
Dari yang mengerat hingga yang menggerutu.
Menyisakan rindu yang membuat mu biru
Sentimentil pun menguat dan semua terasa
Perpisahan demi perpisaan kerap menggertak namun tak membuat jera
Hanya menumpuk dan menabung beban di pucuk malam
Kenang dan mengenang.
Ini yang kuhabiskan saat ini
Meski aku tahu aku semestinya maju
Namun biarkan malam ini kuhabiskan untuk memuja rindu.
26 April 2013
Puja, Puji, Uji, Benci
Kau yang mabuk puja
Lupa akan kami yang miskin puji
Kau melahap semua puja
Dam membiarkan kami lapar akan puji
Menghendaki semua orang memuja
Namun kau tak pernah memuji.
Dan kini kau akan kami beri uji.
Karena kami pergi undur diri.
Dan meninggalkan hujat dan benci.
Subscribe to:
Posts (Atom)