Angkot.

Hari ini saya salah jurusan naik angkot. Bila anda salah jurusan naik angkot, nda pasti akan tetap memutar balik dan tidak mungkin berhenti di tempat di angkot yang salah jurusan. Anda pasti akan terus mencari rumah untuk pulang. Hari ini adalah salah satu titik terjenuh dalam hidup saya. Maafkan untuk beberapa teman teman kalau kuping anda terlalu jengah karena saya mengeluh. Jujur, tidak biasanya saya mengeluh sebanyak ini. Tapi lagi lagi, siapa yang tidak mengeluh ketika angkot yang anda naiki menuntun ke arah yang lain? Mungkin anda masih bisa tersenyum bila angkot tersebut ber AC, supir nya Steven Spielberg, kenek angkotnya Butet Kertaradjasa dan disuguhi sebotol jus jeruk. Namun sayangnya yang anda rasakan hanya sesak asap. Sama saja dengan angkot yang menuju rumah. Hanya saja anda berputar putar.

Itu yang saya keluhkan. Saya merasa kesal berputar putar, saya terlalu rindu dengan rumah. Saya hanya ingin pulang dan memutar jalan.

Namun masalahnya,

Saya terlalu takut untuk bilang ke supir angkotnya, "pak saya turun disini saja".

aku terjebak diruang tak berpintu
melolonglong sepi
mengurai rindu

aku kehilangan sebuah sisi
sisi dimana pelangi
memainkan arti


meratap aku terpaku
merayu aku mendayu
membiru seperti palsu
dan merengut melihat semua teregut

mimpi mimpiku, menatap ku sendu
mengulurkan tangan padaku.
namun ku berlayar
menjauh dan menjauh

sampah

tak ada yang suka menjadi sampah
dibuang dan disingkirkan
dihina dan diasingkan

merengek untuk menjadi api
namun apa daya sampah tetaplah sampah.

namun sampah bukan lah sampah bila ia pulang ke rumah

kertas berarti emas ditangan penulis
tahi berarti hidup untuk para tumbuhan

sampah adalah sampah
hingga ia menemukan rumah.

asing

Ia terdiam karena ia percaya dunia adalah tempat yang hina
tak mampu diajak bercanda
tak mampu diajak tertawa

dan kini ia mengasingkan diri dan surga
menyingkir dari angin
dan membaur bersama pasir

sepi terkadang menghujat meminta hadir
namun ia tahan hingga kadang tak bergeming

ia bukan lah pribadi yang terbaik
dunia mengusik dan mengusir dia pergi.

namun bukankah dunia juga bukan tempat baik?

mengerti (atau tidak?)

setiap ledakan yang menggebu
hanya lembar putih yang paling mengerti

mengeraskan setiap memori
dan menjadikannya sebuah budaya

meski ia terkadang acuh ketika manusia berdaya
namun putih sedia dikala hancur berkunjung

jadi, mengerti atau tidak
mengerti atau tidak?
mengerti atau tidak?

tidak mengerti?

memang lembar putih yang paling mengerti.

dipersimpangan

Bukankah terlalu penat
Bila kau terdampar di persimpangan?

bernafas pun sesak
hingga kamu tahu yang kamu ingin kan hanya gerak.

kemanapun. asal tak diam.
kemanapun. asal bisa memihak.

tak ada yang mengerti kali ini.
tangan pun tak cukup panjang untuk mengulur hingga kemari.
kini hanya kaki yang mampu mendaki
kaki sendiri
tak ada yang lain.

"ini realita" orang nyata bilang
semua mimpi dan langit kini hanya sebuah debu ilusi
dan obsesi meleleh dibakar mereka yang kurang mengerti

dan dipersimpangan ini semua dipertaruhkan

Dipanas Panasi.

Dipanas panasi

hingga hati terbakar lagi
kini aku tak mau lari
karena aku sudah dipanas panasi
Sudah cukup aku menjadi mati
dan aku kini hidup kembali
karena aku sudah dipanas panasi
Kini aku terbakar lagi
dan aku tidak mau pergi tanpa memberi